Home / Artikel

Rabu, 31 Agustus 2022 - 06:23 WIB

Menggali Cuan dari Carbon Trading di Eks Arun

ACEHZONE.COM – OLEH TEUKU ANDIKA RAMA PUTRA ST MSc PhD, Lulusan Colorado School of Mine Dosen Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala

BEBERAPA bulan lalu, kabar baik tentang rencana pemanfaatan Lapangan Arun yang berlokasi di Aceh Utara untuk penyimpanan Gas Karbon Dioksida (CO2) cukup banyak diberitakan.

Disebutkan Pemerintah Aceh melalui Badan Usaha Milik Aceh, yaitu PT Pembangunan Aceh (PEMA) sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan ODIN Reservoir Consultant dari Australia pada Jumat 18 Maret 2002 di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Cikini, Jakarta Pusat.

Gubernur Aceh saat itu, Nova Iriansyah, menyambut baik penandatanganan MoU tersebut, karena pengembangan tempat penyimpanan gas tersebut merupakan proyek yang sangat inovatif, sehingga menjadikan PT Arun tetap berfungsi dan beroperasi secara berkelanjutan.

“Saya merasa senang dengan adanya kerja sama ini.

Karena di Aceh (Arun Lhokseumawe) sudah memiliki tempat penyimpanan gas (CO2),” begitu kata Nova dalam sebuah pemberitaan.

Reservoir Consultant- Australia, Andang Bachtiar mengatakan, penyimpanan CO2 di PT Arun dapat menjadi peluang komersial yang sangat besar untuk mengembangkan pasokan gas yang tinggi di Aceh dan sekitarnya.

Semangat positif pun menyeruak di tengah perjuangan dalam menggalakkan perputaran ekonomi di Aceh agar menjadi lebih baik khususnya melalui dukungan untuk industri hulu migas.

Jika benar project tersebut dapat mendatangkan peluang komersial untuk Aceh, ada banyak pertanyaan yang harus dijawab dan sejumlah proyeksi yang harus dipikirkan secara matang.

Pertama, bagaimana mekanismenya? Kemudian, berapa potensi ekonomi yang mungkin dicapai? Lalu, siapa para pihak yang berwenang mengaturnya? Selanjutnya, apakah hal ini sama dengan industri hulu migas? Bagaimana regulasinya? Belum lagi, apa manfaat yang akan didapatkan oleh rakyat Aceh dari project tersebut? Mari kita mengulik tentang “penyimpanan Gas CO2” atau yang populer disebut Carbon Capture and Storage (CCS) di mesin pencarian.

Dilansir dari situs resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), disebutkan Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan teknik yang dapat digunakan dalam pengurangan karbon oleh negara-negara di dunia.

Baca Juga :  Mengoptimalkan Fungsi Keluarga

Dalam teknik ini karbon ditangkap kemudian dipisahkan dan disimpan kembali secara fisik.

Mengapa negara-negara di dunia ingin mengurangi CO2? Karena patut diduga CO2 yang terlepas ke atmosfer menyebabkan kenaikan suhu global di bumi yang akan berakibat terhadap perubahan iklim dalam jangka waktu tertentu.

CO2 yang berlebih di atmosfer tersebut akan bersifat seperti rumah kaca, yang memerangkap panas di bawahnya.

Setidaknya itulah yang menyebabkan negara-negara di dunia mengampanyekan untuk mengurangi CO2 yang dilepaskan ke atmosfer.

Hal itu bahkan sudah menjadi kesepakatan dunia dalam Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, United Kingdom yang berlangsung dari 31 Oktober hingga 12 November 2021.

COP merupakan forum tingkat tinggi tahunan bagi 197 negara untuk membicarakan perubahan iklim serta langkah negara-negara di dunia untuk menanggulanginya.

Lantas bagaimana mekanisme menurunkan CO2 hingga mencapai target Net Zero Emission (NZE) sesuai dengan rekomendasi di Glasgow.

Menangkap CCS merupakan salah satu harapan agar kualitas bumi menjadi lebih baik dengan mengurangi dampak dari pemanasan global.

Melalui CCS, CO2 akan disimpan ke dalam lapisan bumi sehingga CO2 tersebut akan tetap berada di sana hingga waktu yang sangat lama.

Secara ringkas mekanismenya dilakukan dengan beberapa langkah yaitu; CO2 yang ditangkap dari penghasil CO2 yang besar misalnya pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Lalu, transpor CO2 (pemindahan CO2).

Setelah ditangkap, miliaran ton emisi CO2 dikompresi menjadi cair agar mudah diangkut ke tempat penyimpanan yang sesuai.

Untuk penyimpanan di tambang migas offshore, CO2 diangkut melalui jalur pipa offshore, menggunakan kapal atau kombinasi keduanya.

Selanjutnya adalah untuk penyimpanan CO2 dimana tempat penyimpanan paling praktis untuk menyimpan emisi karbon dalam jumlah banyak, biasanya reservoir minyak atau gas yang sudah tua.

Terakhir adalah monitoring (pemantauan).

Memantau dan memverifikasi jumlah CO2 yang tersimpan sangatlah penting jika penyimpanan CO2 digunakan untuk memenuhi komitmen nasional dan atau internasional sebagai dasar perdagangan emisi.

Setiap tempat penyimpanan CO2 harus diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran CO2 dari tempat penyimpanan.

Baca Juga :  Menuju Pesta Demokrasi Dan Kepedulian Terhadap Bencana

Untuk potensi ekonomi CCS, melansir dari Kompas.com lewat pemberitaan berjudul CCS, Teknologi Tepat Hadapi Susutnya Cadangan Minyak Dunia, disebutkan CCS adalah teknologi menangkap karbon dioksida skala besar dari fasilitas semacam pembangkit listrik atau industri lainnya.

Principal Manager Global Carbon Capture and Storage (CCS) Institute, Alice Gibson mengatakan karbon dioksida yang ditangkap dikompres menjadi cairan yang bisa diinjeksi ke dalam tanah.

Oleh karena itu bisa disebut permanent storage.

Dengan adanya teknologi CCS bisa mereduksi emisi hingga 14 persen dalam skala global dengan biaya yang paling murah.

Salah satu negara di dunia yaitu Singapura, merupakan salah satu negara emitter besar sudah merevisi kebijakan carbon tax.

Singapura menaikkan secara signifikan jumlah pajak yang harus dibayarkan setiap kelebihan ambang batas CO2.

Lantas dimana peluang komersil seperti yang disebutkan oleh Andang Bachtiar (Konsultan Odin Reservoir) sebelumnya? Dari salah satu referensi ilmiah didapatkan informasi bahwa Singapura akan berusaha keras mengurangi emisi CO2 nya dengan berbagai daya upaya dan metode.

Namun, porsi terbesar adalah dengan metode CCS, lebih 50 persen diharapkan emisi CO2 Singapura berkurang dari meningkatnya project CCS mulai dari tahun 2020-2080.

Pada tahun 2080, Singapura berharap akan menjadi negara dengan Net Zero Emission, dengan porsi CCS yang harus diinjeksikan ke dalam bumi sebesar 40 juta metrik ton per tahun.

Dengan data di atas, dapat dibuat sebuah ilustrasi hitungan keekonomian sederhana pada tahun 2030 yakni tarif pajak Singapura mencapai 68$ per metrik ton per tahun.

Jika di tahun 2030, ada 10 juta metrik ton yang harus diinjeksikan ke dalam bumi, maka nilainya akan mencapai 680 juta dollar.

Ternyata jumlah sangat besar tersebut berasal dari satu negara kecil di kawasan Asia Tenggara yang menyumbang 0.1.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Acehzone.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Acehzone.com”, caranya klik link https://t.me/acehzone, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Share :

Baca Juga

Ancaman Krisis Pangan dan Derita Kaum Tani Acehzone.com

Artikel

Ancaman Krisis Pangan dan Derita Kaum Tani
Menuju Pesta Demokrasi Dan Kepedulian Terhadap Bencana Acehzone.com

Artikel

Menuju Pesta Demokrasi Dan Kepedulian Terhadap Bencana
Bunuh Diri dengan Erosi Acehzone.com

Artikel

Bunuh Diri dengan Erosi
Diskusi Pagi Sambil Minum Kopi di Kampung Kami Acehzone.com

Artikel

Diskusi Pagi Sambil Minum Kopi di Kampung Kami
Perubahan Iklim Jurnalis – Bagian 2 Acehzone.com

Artikel

Perubahan Iklim Jurnalis – Bagian 2
Ini Foto Permukaan Bulan Paling Detail yang Diambil dari Bumi Acehzone.com

Artikel

Ini Foto Permukaan Bulan Paling Detail yang Diambil dari Bumi
Perubahan Iklim Jurnalis - Bagian 1 Acehzone.com

Artikel

Perubahan Iklim Jurnalis – Bagian 1
Ketua IMKKKGL Gayo Lues Ingatkan Tentang Masih Tingginya Angka Kejadian Stunting di Kabupaten Gayo Lues Acehzone.com

Artikel

Ketua IMKKKGL Gayo Lues Ingatkan Tentang Masih Tingginya Angka Kejadian Stunting di Kabupaten Gayo Lues