Home / Artikel

Rabu, 9 November 2022 - 07:41 WIB

Ancaman Krisis Pangan dan Derita Kaum Tani

ACEHZONE.com | SUMENEP – Diakhir bulan Oktober 2022 lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 125 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah. Dalam Perpres ditegaskan perlunya melakukan penguasaan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dalam rangka ketersediaan pangan di seluruh Indonesia.

Diterbitnya perpres ini dilatar belangi adanya ancaman krisis pangan global dibanyak negara. Bahkan beberapa negara majupun tidak luput dari sasaran krisis pangan seperti Inggris dan negara eropa lainnya.

Bisa jadi, negri kita juga ikut terancam krisis pangan dalam 2 – 3 tahun ke depan jika pemerintah tidak siap siaga mulai sekarang.

Oleh katena itu dalam rangka ketersediaan pangan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu melakukan penguasaan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah yang pelaksanaannya dapat ditugaskan kepada badan usaha milik negara.

Selain upaya untuk menggenjot ketersediaan pangan, pemerintah harus memperhatikan beban kaum tani yang belakangan semakin menggila. Kaum muda dipedesaan ramai-ramai meninggalkan dunia pertanian karena tidak menguntungkan dan memilih profesi lain yang lebih menguntungkan dan menjanjikan. Perubahan orientasi kaum muda pedesaan juga harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah agar regenerasi dunia pertanian tetap terjaga.

*Derita Kaum Tani*

Bagi mereka yang tidak terjun langsung menjadi petani, mungkin tidak merasakan suka dukanya sebagai petani. Selama ini semua petani menderita tekanan batin. Kok bisa ?

Saat musim tanam tiba, petani sudah dipusingkan soal biaya tanam. Tenaga buruh tani semakin langka, ongkos kerja pun naik signifikan. Belum lagi soal mahalnya harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang semakin menggila. Itu baru soal biaya tanam sudah bikin pusing.

Saat panen tiba, kebiasaan lama yang sering tidak diperhatikan pemerintah adalah pengendalian harga komoditas pertanian paska panen disetiap kota / kabupaten. Dimana-mana saat musim panen, harganya pasti turun drastis meski kualitasnya baik.

Baca Juga :  JERITAN NELAYAN, PASKA LANGKA DAN NAIKNYA HARGA BBM

*”Bagaimana kaum tani ndak stres jika kondisi dunia pertanian terus menerus seperti ini ? Ajor, ajor. Kang. Kembali modal saja, petani sudah merasa syukur”.* Ujar Mustofa petani asal Kudus Jawa Tengah.

Begitulah derita kaum tani yang selama ini dirasakan.
Karenanya, *saya rekomendasikan agar setiap pejabat negara dan ASN menyempatkan diri ikut bertani, minimal seminggu sekali terjun langsung kesawah dengan cara menyewa atau mengelola sawahnya sendiri.*
Dengan demikian kalian akan ikut merasakan sebagai petani.

*Perlunya Intervensi Pemerintah*

Sebagai pemerhati dunia pertanian, kita apresiasi atas terbitnya Perpres nomer 125 tahun 2022 guna mengamankan ketahanan pangan nasional.

Intervensi pemerintah mestinya tidak hanya focus soal ketahanan pangan saja, meski selalu mendorong kaum tani agar menanam komoditas pangan seperti padi, jagung dan kedelai dengan memberikan bantuan bibit dan pupuk melalui dinas pertanian dan kelompok tani juga bagian dari perhatian itu sendiri.

*Intervensi pemerintah perlu diperluas cakupannya dengan cara mengeluarkan perpres yang isinya tentang :*

1. Pengendalian harga dasar obat-obatan dan pupuk yang beredar dimasyarakat yang harganya semakin ugal-ugalan.

2. Merelease jenis obat-obatan pertanian dengan harga yang terjangkau dan murah. Sebab, harganya obat-obatan pertanian pada umumnya dipatok oleh pihak produsen tanpa melihat kondisi riil kaum tani.

3. Memberikan contoh secara serentak disetiap kecamatan atau bahkan disetiap desa secara langsung tentang tata cara bertanam organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak secara terpadu guna menekan ketergantungan petani atas penggunaan pupuk kimia.
Percontohan tersebut bisa melibatkan pemerintah desa dan menggunakan dana desa serta dilakukan secara terbuka mulai dari mengolah tanah sampai panen bersama.

*Membangkitkan Gairah Bertani Dikalangan Kaum Muda*

Baca Juga :  CSR Perusahaan Untuk Siapa

Hampir disetiap provinsi diseluruh wilayah nusantara sudah ada perguruan tinggi yang membuka fakultas pertanian. Tanpa dihitungpun, dipastikan jumlah sarjana pertanian mencapai angka ribuan.

Dari jumlah yang ada, dipastikan orientasinya ingin menjadi PNS dan pekerjaan yang mapan, tapi bukan menjadi petani yang tangguh. Ini fakta, dan jika ada yang tidak terima bisa berdebat dan mencari bukti bersama dengan saya.

Memang sangat dilema, semua berharap ada regenerasi dalam dunia pertanian. Yang muda menggantikan yang tua. Ironisnya lagi para petani justru berharap anak-anaknya berprofesi dibidang lain agar kehidupannya lebih sejahtera dari pada menjadi petani.

*”Seandainya profesi petani lebih menjanjikan kesejahteraan dari pada profesi yang lain, tentu banyak pemuda yang tertarik jadi petani.*

*Kenyataanya terbalik, maka wajar jika mayoritas orang tua termasuk yang berprofesi petani berharap anak-anaknya mendapatkan pekerjaan yang layak agar hidupnya sejahtera selain jadi petani”.* Papar Muhammad Asnawi, cendekiawan muda asli Kudus.

Kecenderungan kaum muda yang tidak tertarik menjadi petani adalah ancaman serius atas keberlangsungnya dunia pertanian. Tanda-tanda ketidak tertarikan kaum muda pedesan atas dunia pertanian semakin jelas dan nyata, lebih-lebih paska covid 19, adalah terjadinya gelombang urbanisasi dari desa ke kota.

Kaum muda pedesaan memilih merantau dan mencari pekerjaan di kota atau ke luar negeri.

Sementara generasi tua pelaku pertanian, 5 – 10 tahun lagi memasuki usia pensiun dan tidak aktif lagi menjadi petani. Kemandegan regenerasi ini sangat mengkhawatirkan demi menjaga dan ketersediaannya pangan nasional.

Melihat pergeseran dan kecenderungan orientasi kaum muda pedesaan, akankah pemerintah membiarkan perubahan ini ?

Jika dibiarkan, akankah tenaga manusia didunia pertanian semuanya diganti dengan mesin dan robot ?
Sampai kapan peralihan tehnologi ini direalisasikan ?

Semoga baik-baik saja.

Sumber : JNN.co.id

Share :

Baca Juga

Perubahan Iklim Jurnalis – Bagian 2 Acehzone.com

Artikel

Perubahan Iklim Jurnalis – Bagian 2
Kabar Baik dan Kabar Buruk Pers Indonesia Acehzone.com

Artikel

Kabar Baik dan Kabar Buruk Pers Indonesia
Fenomena BRIN vs BMKG tentang Prakiraan Cuaca Akhir Tahun Acehzone.com

Artikel

Fenomena BRIN vs BMKG tentang Prakiraan Cuaca Akhir Tahun
Pentingkah Jalan Tol Aceh? Acehzone.com

Artikel

Pentingkah Jalan Tol Aceh?
6 Keajaiban Dunia yang Telah Musnah Acehzone.com

Artikel

6 Keajaiban Dunia yang Telah Musnah
Ketua IMKKKGL Gayo Lues Ingatkan Tentang Masih Tingginya Angka Kejadian Stunting di Kabupaten Gayo Lues Acehzone.com

Artikel

Ketua IMKKKGL Gayo Lues Ingatkan Tentang Masih Tingginya Angka Kejadian Stunting di Kabupaten Gayo Lues
JERITAN NELAYAN, PASKA LANGKA DAN NAIKNYA HARGA BBM Acehzone.com

Artikel

JERITAN NELAYAN, PASKA LANGKA DAN NAIKNYA HARGA BBM
Flexing : Sebuah Tren Hedonisme Dikalangan Generasi Muda Acehzone.com

Artikel

Flexing : Sebuah Tren Hedonisme Dikalangan Generasi Muda